MAKASSARINFO – Yang jatuh hari ini bukan hanya pemimpin. Yang kelelahan juga bukan hanya pejabat. Yang kehilangan kejernihan berpikir, diam-diam, adalah hampir semua orang yang hidup terlalu lama di dalam layar.

Kita tidak kekurangan informasi. Kita tenggelam di dalamnya.

Itu sebabnya, mulai sekarang kita perlu selektif terhadap informasi, juga konten-konten buatan media baru atau warganet yang nyinyir, nyindir, atau halusinasi. Termasuk konten ini.

Bagaimana cara seleksi dan kurasi informasi?

Ada satu konsep dari riset kognisi yang mulai sering dibicarakan, namanya critical ignoring. Kalau diterjemahkan secara sederhana, artinya mengabaikan secara sadar dan terpilih.

Konsep ini dikembangkan oleh psikolog kognitif seperti Ralph Hertwig dan Stephan Lewandowsky. Intinya tidak rumit. Konsep ini mengakui bahwa perhatian manusia terbatas. Sementara hal-hal yang berebut perhatian kita sebagai manusia hampir tidak ada batasnya. Maka keputusan yang baik tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita baca, tapi juga oleh apa yang kita putuskan untuk tidak baca.

Masalahnya, di kehidupan sehari-hari, kita justru melakukan sebaliknya.

Bangun pagi, tangan langsung mencari ponsel. Notifikasi menumpuk seperti utang yang harus segera dilunasi. Grup WhatsApp sudah ramai sejak subuh, dari obrolan serius sampai kiriman yang bahkan pengirimnya sendiri tidak tahu asalnya. Lini masa bergerak cepat, penuh opini yang terasa mendesak untuk ditanggapi, padahal sebagian besar akan dilupakan dalam dua hari.

Pejabat merasa harus merespons semua isu. Netizen merasa harus punya pendapat tentang semua hal. Profesional merasa harus selalu update agar tidak dianggap ketinggalan. Semua orang sibuk, tapi tidak jelas sibuk untuk apa.

Di titik itu, kemampuan mengabaikan bukan lagi kemewahan. Ia jadi kebutuhan dasar.

Kebiasaan pertama adalah mengatur aliran informasi sebelum ia mengatur kita. Ini bukan soal menjadi tidak peduli. Ini soal membangun batas.

Matikan notifikasi yang tidak penting. Tentukan kapan waktu membuka media sosial, bukan sebaliknya. Tidak semua pesan harus dibaca saat itu juga. Tidak semua informasi perlu masuk ke kepala kita hari ini.

Banyak orang bangga ketika ponselnya tidak pernah sepi. Seolah itu bukti bahwa mereka dibutuhkan. Padahal itu justru tanda bahwa perhatian mereka sudah dikendalikan oleh hal-hal di luar kendali mereka.

Kebiasaan kedua adalah berhenti sejenak sebelum ikut larut. Sebelum percaya, sebelum membagikan, sebelum berkomentar, buka sumber lain. Cek siapa yang menulis. Lihat apakah informasi itu berdiri sendiri atau hanya gema dari satu sumber yang sama.

Tidak semua yang viral itu penting. Tidak semua yang ramai itu benar.

Kita sudah berkali-kali melihat bagaimana satu pesan di grup bisa berubah menjadi kepanikan massal. Dari isu kesehatan sampai isu politik, pola itu berulang. Bukan karena kita bodoh, tapi karena kita terlalu cepat bereaksi.

Dan di dunia yang serba cepat, reaksi sering kali terasa seperti kecerdasan, padahal sebenarnya hanya refleks.

Kebiasaan ketiga adalah berani tidak terlibat. Tidak semua perdebatan perlu dimenangkan. Tidak semua provokasi perlu diladeni. Tidak semua kritik harus dibalas di tempat yang sama.

Sering kali, dengan merespons, kita justru memberi panggung pada hal yang seharusnya padam dengan sendirinya. Di ruang digital, perhatian adalah bahan bakar. Tanpa perhatian, banyak hal kehilangan tenaga.

Ini berlaku untuk siapa saja. Pejabat yang terpancing komentar kecil, netizen yang terjebak debat tanpa ujung, profesional yang menghabiskan energi untuk hal yang tidak berdampak nyata.

Diam, dalam konteks tertentu, bukan tanda kalah. Ia bisa jadi bentuk kendali.

Kenapa semua ini penting?

Karena perhatian adalah sumber daya yang paling terbatas di era ini. Ketika perhatian kita tersebar ke terlalu banyak hal, kualitas berpikir ikut menurun. Kita makin sulit membedakan mana yang penting dan mana yang hanya terasa penting.

Lebih buruk lagi, kita mulai hidup dalam reaksi, bukan dalam pertimbangan.

Critical ignoring bukan tentang menutup diri dari dunia. Ia justru tentang memilih dunia mana yang layak kita masuki.

Di tengah algoritma yang terus mendorong hal paling ekstrem ke permukaan, kemampuan untuk berkata “ini tidak perlu saya ikuti” adalah bentuk ketenangan yang makin langka.

Pertanyaannya bukan lagi apa yang sudah kita baca hari ini. Tapi apa yang berhasil kita abaikan, supaya pikiran kita masih punya ruang untuk hal yang benar-benar berarti.