MAKASSARINFO – Bagi Zulfitriany Mustaka, persoalan limbah kelapa bukan sekadar masalah yang harus dibersihkan. Di balik sabut kelapa yang terbuang, ia melihat peluang untuk menciptakan nilai baru bagi masyarakat.

 

Dosen Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan (Polipangkep) itu mengembangkan riset bertajuk “Living Laboratorium Ekonomi The Green Gold Kelapa Selayar Sulawesi Selatan” melalui program Bestari Saintek.

 

Riset tersebut berangkat dari persoalan limbah kelapa di Kabupaten Kepulauan Selayar. Desa Bontolempangan, Kecamatan Buki, dipilih sebagai lokasi percontohan untuk mendorong petani mengolah kelapa menjadi produk bernilai tambah.

 

Zulfitriany mengembangkan mesin pencacah sabut kelapa dan mesin press cocopeat. Petani diharapkan tidak lagi hanya menjual kelapa sebagai bahan mentah, tetapi bisa naik kelas menjadi pengusaha produk turunan kelapa.

 

“Kami tidak sekadar membuat alat. Kami membangun ekosistem ekonomi baru bagi masyarakat. Desa Bontolempangan akan menjadi piloting di mana petani kelapa naik kelas menjadi pengusaha produk turunan kelapa,” kata Zulfitriany.

 

Perjalanan riset itu kemudian berkembang lebih jauh. Limbah kelapa dikembangkan menjadi cocodye, pewarna alami berbasis kelapa untuk mendukung produksi wastra yang lebih ramah lingkungan.

 

Tim Bestari Saintek turut berkolaborasi dalam penyusunan modul pembelajaran zat pewarna alam cocodye di Rumah Wastra Cahaya Lontara. Produk tersebut diperkenalkan melalui Ruang Wastra dan Kriya Cahaya Lontara yang hadir di Pusat Oleh-Oleh Roti Mantao Sudiang, Makassar, pada 26 Agustus 2026.

 

Tak berhenti pada pewarna alami, ampas dari proses pewarnaan juga diarahkan untuk dimanfaatkan kembali menjadi pupuk melalui konsep comicompos.

 

Riset ini melibatkan Pemkab Kepulauan Selayar, Yayasan Pendidikan Cahaya Lontara dan Dekranasda. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun ekonomi sirkular, meningkatkan nilai tambah bagi petani, sekaligus mengurangi limbah dan jejak lingkungan.

 

Melalui Bestari Saintek, Polipangkep mencatatkan dua riset daerah yang masuk dalam ekosistem nasional hilirisasi riset. Program yang didukung LPDP ini memilih 122 tim penerima pendanaan dari 8.951 pendaftar.

 

Bagi Zulfitriany, riset bukan hanya soal menghasilkan teknologi. Lebih dari itu, riset diharapkan bisa kembali ke masyarakat, menghidupkan potensi desa, dan menjadikan sesuatu yang sebelumnya dianggap limbah sebagai sumber kehidupan baru.