FOBIZ.ID, MAKASSAR – Penonton di Makassar dibuat tegang saat menyaksikan film Memburu Pemangsa dalam agenda nonton duluan yang digelar sebelum film tersebut resmi tayang di bioskop.

Makassar menjadi salah satu dari tujuh kota di Indonesia yang mendapat kesempatan menyaksikan film terbaru Sinemaku Pictures garapan sutradara Umay Shahab tersebut lebih awal.

Pemutaran nonton duluan juga berlangsung di Jakarta, Depok, Bogor, Bekasi, Yogyakarta, dan Medan. Hampir seluruh tiket dalam rangkaian pemutaran tersebut terjual habis.

Memburu Pemangsa menggabungkan genre horor, kriminal, dan aksi. Ceritanya berpusat pada perburuan predator yang menjadikan anak-anak sebagai korban.

Empat jurnalis perempuan menjadi tokoh utama dalam film tersebut. Laura Basuki berperan sebagai Agnes, Prilly Latuconsina sebagai Cia, Taskya Namya sebagai Brina, dan Yasamin Jasem sebagai Anya.

Mereka terlibat dalam investigasi kasus hilangnya tujuh anak. Empat anak kemudian ditemukan dalam kondisi termutilasi.

Kasus tersebut semakin serius setelah Agnes, pemimpin redaksi Daily Wave News, menyaksikan langsung seorang anak diculik di depan matanya.

Agnes bersama tiga jurnalis lainnya kemudian bekerja sama dengan Petra, seorang polisi yang diperankan Andi Mashadi.

Mereka harus memilih antara menyelamatkan diri atau mempertaruhkan nyawa untuk memburu pelaku dan menyelamatkan anak-anak.

Angkat Isu Kekerasan Anak di Makassar

Pemutaran film Memburu Pemangsa di Makassar juga membawa perhatian pada isu kekerasan terhadap anak.

Tim produksi menyinggung kasus kekerasan seksual terhadap seorang siswi SMP di Makassar yang terjadi pada Juli 2026.

Kasus tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa persoalan kekerasan terhadap anak masih menjadi perhatian masyarakat.

Sutradara Umay Shahab mengatakan anak merupakan kelompok yang tidak memiliki kekuatan untuk melawan ketika menjadi korban kekerasan.

“Orang yang melakukan tindakan kekerasan pada anak adalah serendah-rendahnya manusia, karena melakukan kekerasan terhadap anak, yang tidak memiliki kemampuan kekuatan untuk melawan,” ujar Umay.

Taskya Namya mengatakan isu anak menjadi salah satu alasan dirinya tertarik bergabung dalam film tersebut.

“Gambaran empat jurnalis perempuan di film ini sangat penting untuk membela dan menjaga anak-anak. Salah satu alasanku mau bergabung di film ini adalah karena isu anak-anak,” kata Taskya.

Taskya juga mengaku membayangkan tiga keponakannya ketika mendalami cerita film.

“Aku punya tiga keponakan dan membayangkan kalau mereka ada di posisi terburuk seperti yang ada di film ini, aku juga akan melakukan apapun seperti Brina dan teman-teman jurnalisnya, mengejar dan tidak membiarkan pemangsa ini untuk lolos,” tambahnya.

Jalani Workshop Action Tiga Bulan

Memburu Pemangsa tidak hanya mengandalkan adegan horor. Film ini juga menghadirkan aksi yang cukup intens.

Yasamin Jasem mengatakan para pemain harus menjalani workshop action selama tiga bulan sebelum proses produksi.

“Salah satu yang menarik untukku juga adalah adegan action-nya yang cukup heavy, ditambah pacing horor yang memacu adrenalin. Kami para pemeran harus melakukan workshop action selama tiga bulan sebelumnya lebih dulu, dan sangat menantang,” ujar Yasamin.

Film ini juga menawarkan pendekatan berbeda dengan menempatkan empat perempuan sebagai pemeran utama yang berada di garis depan perburuan.

Sinopsis Memburu Pemangsa

Cerita bermula ketika tujuh anak menghilang dari sebuah kawasan. Empat di antaranya kemudian ditemukan dalam kondisi termutilasi.

Agnes, pemimpin redaksi Daily Wave News, terseret ke dalam kasus tersebut setelah menyaksikan seorang anak diculik tepat di depan matanya.

Agnes yang sebelumnya menolak kemampuan supernatural setelah kematian putrinya kemudian kembali berhadapan dengan sisi tersebut.