Catatan Pinggiran : Oyiiassegaf Ketua Millenial Peduli Bone

MAKASSARINFO – Saya bangga melihat perubahan yang terjadi di Kabupaten Bone. Jalan-jalan yang dahulu berlubang kini di sejumlah titik tampak lebih mulus. Lampu lampu menerangi wajah kota pada malam hari. Lapangan Merdeka ramai dikunjungi masyarakat, bukan hanya dari kawasan perkotaan, tetapi juga warga dari desa. Aktivitas pelaku UMKM pun ikut menggeliat.. Alhamdulillah

Semua itu patut diapresiasi. Perubahan fisik sebuah daerah tentu penting karena menyangkut kenyamanan, aktivitas ekonomi, dan wajah sebuah kota.

Namun, tulisan ini bukan semata-mata tentang jalan yang mulus atau lampu kota yang terang.

Ini tentang manusia.

Saya teringat sebuah pesan yang pernah disampaikan Bapak Bupati Bone ketika melepas mahasiswa yang akan melaksanakan Kuliah kerja Nyata (KKN). Saat itu saya mendapat amanah dari kampus sebagai koordinator kecamatan.

Dalam kesempatan itu, mahasiswa diingatkan agar tidak sekadar datang ke desa untuk menjalankan program, tetapi benar-benar mengabdi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kami juga diarahkan untuk membantu pemerintah mengumpulkan berbagai data sosial, mulai dari persoalan stunting, anak putus sekolah, kemiskinan ekstrem hingga pengangguran.

Bagi kami, pesan itu memberikan kesan tersendiri. Ada harapan bahwa data yang dikumpulkan mahasiswa tidak berhenti sebagai angka dalam laporan KKN. Di balik setiap angka terdapat manusia, keluarga, dan kehidupan yang membutuhkan perhatian.

Setelah data diserahkan, mungkin angka-angka itu telah dibaca. Grafik-grafik mungkin telah dipelajari. Tetapi pertanyaan yang terus muncul adalah : bagaimana tindak lanjutnya?

Pertanyaan itu terasa semakin kuat ketika kita mendengar kisah warga dari sejumlah wilayah di Bone.

Di Kecamatan Cenrana, misalnya, terdapat kisah Nursia, 73 tahun. Di usia ketika seseorang semestinya menikmati masa istirahat, ia justru masih bekerja sebagai buruh cuci untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Nursia tinggal bersama cucunya, Haikal, yang masih berusia 10 tahun. Keduanya hidup dalam keterbatasan dan menumpang di rumah warga. Kondisi semakin berat karena Haikal sedang mengalami sakit dan disebut diduga mengalami masalah gizi buruk.

Penghasilan dari pekerjaan mencuci yang dilakukan Nursia hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari. Bagi sebagian orang, pekerjaan itu mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi seorang perempuan lanjut usia, pekerjaan itu menjadi bagian dari perjuangan untuk bertahan hidup.

Di wilayah yang sama, kisah lain datang dari Ani, 51 tahun, warga Desa Ajallase. Selama sekitar lima tahun berstatus janda, Ani disebut berjuang menghidupi anak-anaknya seorang diri.

Persoalannya bukan hanya keterbatasan ekonomi. Rumah panggung yang ditempatinya bersama anak-anak juga berada dalam kondisi memprihatinkan. Sejumlah tiang penyangga disebut telah patah, sementara bangunan mulai miring sehingga keamanan penghuni menjadi persoalan.

Ada pula Sapia, 70 tahun, warga Dusun Mappakkae, Desa Watang Ta kecamatan Cenrana. Perempuan lanjut usia yang telah mengalami stroke selama kurang lebih lima tahun itu disebut menjalani kehidupan dalam keterbatasan.

Sapia yang berstatus janda juga menyampaikan bahwa dirinya belum menerima bantuan sosial maupun bantuan lainnya dari pemerintah desa. Kondisi rumah yang ditempatinya pun disebut membutuhkan perbaikan agar lebih layak dan aman.

Kisah-kisah ini bukan untuk meniadakan berbagai capaian pembangunan yang telah dilakukan pemerintah. Justru sebaliknya, pembangunan fisik dan pembangunan manusia semestinya berjalan beriringan.

Jalan yang mulus memang penting. Lampu kota yang terang juga penting. Ruang publik yang hidup dan UMKM yang berkembang tentu patut disyukuri.

Tetapi ukuran keberhasilan pembangunan tidak seharusnya hanya terlihat dari apa yang tampak di pusat kota.

Ia juga harus terasa sampai ke rumah-rumah warga yang jauh dari sorotan.

Sebab, di balik angka kemiskinan terdapat seorang nenek yang masih bekerja. Di balik data keluarga rentan terdapat seorang ibu yang khawatir rumahnya roboh. Di balik data penerima bantuan terdapat lansia yang mungkin sedang menunggu seseorang datang melihat kondisinya.

Karena itu, barangkali sudah waktunya data-data sosial yang pernah dikumpulkan tidak hanya menjadi dokumen administratif. Data tersebut perlu terus diperbarui, diverifikasi di lapangan, dan ditindaklanjuti dengan kebijakan yang benar-benar menyentuh warga yang membutuhkan.

Saya percaya pemerintah daerah memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Karena itu pula, kisah-kisah seperti ini layak disampaikan bukan sebagai tuduhan, melainkan sebagai pengingat.

Wahai pemimpinku, jika jalan sudah diperbaiki, lampu sudah dinyalakan, dan kota semakin indah, jangan lupa memastikan bahwa cahaya pembangunan juga sampai kepada mereka yang hidup dalam keterbatasan.

Sebab pembangunan pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana sebuah kota terlihat indah pada malam hari.

Pembangunan adalah tentang bagaimana seorang nenek tidak lagi harus bekerja terlalu keras di usia senjanya. Tentang seorang anak yang mendapatkan perhatian ketika sedang sakit. Tentang seorang ibu yang dapat tidur dengan tenang tanpa takut rumahnya roboh. Dan tentang seorang lansia yang merasa bahwa negara tidak melupakannya.

Bone boleh semakin terang.

Tetapi jangan sampai masih ada warganya yang hidup dalam kegelapan perhatian.

Di situlah, menurut saya, makna kemanusiaan dalam pembangunan sesungguhnya diuji. Salamaki Tapada Salamaaa..