MAKASSARINFO – Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa mengingatkan mahasiswa agar lebih cermat mengambil keputusan finansial di tengah maraknya layanan keuangan digital. Mahasiswa diminta mampu membedakan investasi dan spekulasi serta tidak mudah tergiur iming-iming keuntungan.
Pesan tersebut disampaikan Jamaluddin dalam kegiatan LIKE IT Series Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) 2026 di Baruga AP Pettarani, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Selasa (20/10/2026).
Menurut Jamaluddin, tantangan literasi keuangan saat ini bukan sekadar mendapatkan informasi, melainkan kemampuan menilai kebenaran informasi dan memahami risiko dari setiap keputusan finansial.
“Bagi generasi mahasiswa yang akrab dengan layanan digital, kemampuan tersebut semakin relevan. Transaksi dapat dilakukan dalam hitungan detik, sementara keputusan untuk membeli produk, menggunakan layanan pembiayaan, atau menempatkan dana dalam instrumen investasi dapat membawa konsekuensi jangka panjang,” ujar Jamaluddin.
Dia menilai kemudahan akses teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis. Mahasiswa perlu memahami produk keuangan yang digunakan dan tidak mengambil keputusan hanya karena mengikuti tren atau rekomendasi di media sosial.
Jamaluddin juga menekankan pentingnya membangun ketahanan finansial atau financial resilience sejak masih kuliah. Kemampuan tersebut tidak harus menunggu seseorang memiliki penghasilan besar, tetapi dapat dimulai melalui kebiasaan mengatur pengeluaran, menabung, dan memahami risiko keuangan.
“Hari ini mahasiswa Unhas tidak belajar tentang keuangan hanya dari buku, tetapi langsung dari lembaga-lembaga yang menjaga sistem keuangan Indonesia,” katanya.
LIKE IT Series LPS 2026 merupakan program literasi keuangan yang melibatkan LPS bersama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan, serta Komisi XI DPR RI.
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Masyarakat Tangguh Finansial: dari Literasi menuju Keputusan Keuangan yang Berkelanjutan”. Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai sistem keuangan sekaligus mendorong pengambilan keputusan finansial yang bertanggung jawab.
Jamaluddin menjelaskan, setiap lembaga memiliki peran berbeda dalam menjaga sistem keuangan nasional. BI menjalankan mandat di bidang moneter dan sistem pembayaran, sedangkan OJK mengatur dan mengawasi sektor jasa keuangan serta menjalankan fungsi perlindungan konsumen.
Sementara itu, Kementerian Keuangan berperan dalam kebijakan fiskal dan pembiayaan pembangunan. Adapun LPS menjalankan fungsi penjaminan simpanan serta berperan dalam penanganan bank sesuai kewenangannya.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah pembicara turut hadir, yakni Anggota Badan Supervisi LPS Andi Timo Pangerang, Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS Farid Azhar Nasution, dan Anggota Komisi XI DPR RI Andi Yuliani Paris.
Forum tersebut juga menghadirkan sesi Leader Insight bertema “Financial Resilience for the Future: Membangun Generasi yang Aman, Paham, dan Terlindungi”, Parliament Insight mengenai peran legislasi dan pengawasan sektor keuangan, serta diskusi bersama narasumber dari BI, OJK, Kementerian Keuangan, dan LPS.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami konsep literasi keuangan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk mengendalikan pengeluaran, mengenali risiko, dan mempertimbangkan setiap keputusan sebelum menempatkan dana pada instrumen investasi.




Tinggalkan Balasan