Oleh : Supry Kader Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Arung Palakka

MAKASSARINFO – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Selong menyelenggarakan Intermediate Training (LK II) dengan mengusung tema “HMI FRESH: Eleutheria Kader HMI dalam Menyikapi Keumatan dan Kebangsaan” pada 1–8 November 2026, bertempat di Syariah Lombok Hotel, Selong, Lombok Timur. Kegiatan ini menjadi ruang perkaderan intelektual untuk memperkuat kapasitas kader dalam membaca realitas keumatan dan kebangsaan sekaligus merespons berbagai tantangan perubahan zaman. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, salah satu tantangan yang tidak dapat diabaikan adalah bagaimana kader HMI mempertahankan kemerdekaan berpikir dan kesadaran kritis di tengah dominasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Saya, Subri Amin, salah satu peserta Intermediate Training (LK II) HMI Cabang Selong yang berasal dari HMI Cabang Bone, memandang bahwa tema besar perkaderan ini tidak hanya berbicara tentang kemerdekaan kader dalam menyikapi persoalan keumatan dan kebangsaan, tetapi juga harus dimaknai sebagai keberanian membebaskan nalar dari berbagai bentuk ketergantungan yang berpotensi membelenggu kesadaran manusia. Atas dasar refleksi tersebut, saya berpandangan bahwa perkembangan kecerdasan buatan harus disikapi secara kritis. AI tidak boleh menjadi otoritas yang menggantikan kemampuan manusia dalam berpikir, menilai, dan menentukan kebenaran. Sebaliknya, teknologi harus ditempatkan sebagai instrumen pengembangan pengetahuan tanpa menghilangkan kemerdekaan akal dan tanggung jawab kemanusiaan. Dalam konteks inilah, reaktualisasi nilai tauhid HMI menjadi penting sebagai landasan pembebasan nalar digital.

Ketika Kemudahan Mengancam Kemandirian Berpikir

Kita sedang hidup dalam zaman ketika manusia tidak lagi kesulitan menemukan jawaban, tetapi mulai menghadapi persoalan dalam mempertanyakan kebenaran. Kecerdasan buatan telah mengubah cara manusia memperoleh informasi, memproduksi pengetahuan, bahkan membangun argumentasi. Apa yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam hitungan detik. Kemudahan tersebut tentu merupakan capaian peradaban yang patut diapresiasi. Namun, di balik efisiensi yang ditawarkan, muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar : ketika teknologi semakin mampu menghasilkan jawaban, apakah manusia masih bersungguh-sungguh menggunakan pikirannya sendiri?

Pertanyaan ini bukan bentuk penolakan terhadap kemajuan teknologi. Persoalan yang perlu dikritisi adalah perubahan pola relasi manusia dengan teknologi. AI yang semula ditempatkan sebagai alat bantu perlahan berpotensi menjadi sandaran utama dalam berbagai aktivitas intelektual. Mahasiswa menggunakannya untuk menyusun tugas, aktivis memanfaatkannya untuk merangkai argumentasi, bahkan sebagian orang mulai menyerahkan proses memahami persoalan kepada jawaban instan yang dihasilkan mesin.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa kemudahan tidak selalu berbanding lurus dengan kemajuan kualitas berpikir. Kita bisa menghasilkan lebih banyak tulisan, tetapi belum tentu memiliki kedalaman pemahaman. Kita bisa memperoleh ribuan informasi, tetapi belum tentu memiliki kemampuan membedakan pengetahuan dan sekadar informasi. Persoalannya bukan pada penggunaan AI, melainkan ketika manusia kehilangan inisiatif untuk membaca, menguji, mempertanyakan, dan membangun pemikirannya sendiri.

Inilah yang perlu diwaspadai dari AI-centric lifestyle, yakni pola kehidupan yang semakin menempatkan kecerdasan buatan sebagai pusat aktivitas, termasuk dalam proses pengambilan keputusan dan pembentukan pengetahuan. Jika tidak disikapi secara kritis, manusia berisiko menjadi semakin bergantung pada teknologi yang seharusnya berada dalam kendalinya.

Tauhid sebagai Jalan Pembebasan

Dalam konteks ini, tauhid memiliki relevansi yang lebih luas daripada sekadar dimensi keyakinan teologis. Tauhid juga mengandung konsekuensi pembebasan manusia dari segala bentuk penghambaan kepada kekuatan selain Allah SWT. Kesadaran bahwa hanya Allah yang memiliki kedudukan mutlak semestinya melahirkan manusia yang merdeka, tidak mudah tunduk, dan tidak kehilangan martabat kemanusiaannya di hadapan kekuatan duniawi.

Pemikiran Nurcholish Madjid tentang tauhid dan pembebasan manusia memberikan landasan penting untuk membaca persoalan ini. Tauhid tidak seharusnya berhenti sebagai pengakuan terhadap keesaan Tuhan, tetapi harus tercermin dalam sikap manusia yang tidak menempatkan kekuatan duniawi sebagai sesuatu yang mutlak. Dalam perkembangan zaman, prinsip tersebut dapat menjadi landasan etis untuk mengkritisi ketergantungan manusia terhadap teknologi.

Tentu, menggunakan AI tidak dapat disamakan begitu saja dengan penghambaan dalam pengertian teologis. Namun, ketergantungan yang tidak terkendali dapat menjadi persoalan ketika manusia mulai kehilangan otonomi berpikir dan menyerahkan tanggung jawab intelektualnya kepada mesin.

Dengan demikian, pembebasan nalar digital bukan berarti membebaskan manusia dari teknologi, melainkan membebaskan manusia dari ketergantungan yang membuatnya kehilangan kemampuan berpikir secara mandiri. AI boleh membantu manusia menemukan jawaban, tetapi manusia tetap harus memiliki keberanian untuk mempertanyakan jawaban tersebut. Teknologi boleh mempercepat proses berpikir, tetapi tidak boleh menghapus tanggung jawab manusia dalam menentukan kebenaran.

HMI dan Tantangan Reaktualisasi Tauhid

Bagi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), perkembangan ini seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali relevansi perjuangan intelektual kader. Sebab, HMI tidak hanya berhadapan dengan persoalan bagaimana mencetak kader yang mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga bagaimana membentuk manusia yang memiliki kesadaran kritis di tengah perubahan tersebut.

Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI menempatkan tauhid sebagai fondasi utama dalam memahami hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan alam semesta. Fondasi ini seharusnya melahirkan kader yang memiliki kebebasan berpikir, tanggung jawab moral, serta keberanian dalam membaca realitas sosial.

Namun, ada persoalan internal yang patut direnungkan. Jangan sampai kader HMI begitu lantang berbicara tentang pembebasan manusia, tetapi justru kehilangan kemandirian dalam membangun pemikiran. Jangan sampai diskusi hanya menjadi ruang pertukaran pendapat tanpa proses pengkajian yang mendalam. Bahkan, jangan sampai produktivitas intelektual hanya diukur dari banyaknya tulisan yang dihasilkan, sementara kemampuan mempertanggungjawabkan gagasan semakin terabaikan.

Kritik ini penting karena tantangan gerakan mahasiswa tidak lagi terbatas pada persoalan politik dan ketidakadilan sosial secara konvensional. Perkembangan teknologi juga menghadirkan persoalan baru, mulai dari manipulasi informasi, bias algoritma, ketimpangan akses digital, hingga melemahnya kemandirian intelektual.

Karena itu, reaktualisasi tauhid dalam tubuh HMI harus diwujudkan melalui penguatan tradisi keilmuan. Kader perlu membangun budaya membaca, memperkuat diskusi, mengembangkan kemampuan analisis, dan membiasakan diri melakukan verifikasi terhadap informasi. AI dapat dimanfaatkan sebagai instrumen untuk memperluas pengetahuan, tetapi tidak boleh menggantikan proses intelektual yang menjadi tanggung jawab manusia.

HMI juga perlu mengembangkan perspektif kritis bahwa kemajuan teknologi tidak selalu identik dengan kemajuan peradaban. Sebuah masyarakat dapat memiliki teknologi yang semakin canggih, tetapi tetap mengalami kemunduran apabila kehilangan kepekaan sosial, tanggung jawab moral, dan kemampuan berpikir secara mandiri.

Mengembalikan Manusia sebagai Subjek

Pada akhirnya, persoalan AI bukan semata-mata persoalan teknologi, melainkan persoalan tentang bagaimana manusia menempatkan dirinya di tengah kemajuan. Kita tidak sedang membutuhkan generasi yang anti terhadap kecerdasan buatan, tetapi generasi yang mampu menggunakannya tanpa kehilangan kesadaran kritis.

HMI harus mengambil bagian dalam membangun kesadaran tersebut. Reaktualisasi tauhid tidak cukup dilakukan melalui pengulangan konsep dalam forum-forum perkaderan, tetapi harus dibuktikan melalui perilaku intelektual kader dalam menghadapi persoalan nyata. Tauhid harus menjadi kekuatan yang membebaskan manusia, ilmu pengetahuan menjadi instrumen untuk memahami realitas, dan gerakan organisasi menjadi ruang untuk menghadirkan perubahan.

Sebab, tantangan terbesar manusia di era kecerdasan buatan bukanlah ketika mesin mampu menghasilkan jawaban yang lebih cepat, melainkan ketika manusia mulai kehilangan keberanian untuk berpikir, mempertanyakan, dan menentukan arah kehidupannya sendiri.

HMI perlu melahirkan kader yang tidak sekadar mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran untuk mengarahkan penggunaannya bagi kepentingan kemanusiaan. Kemerdekaan kader tidak cukup dimaknai sebagai kebebasan menyampaikan pendapat, tetapi juga sebagai kemampuan membangun pemikiran secara mandiri dan bertanggung jawab.

Teknologi boleh mengambil alih banyak pekerjaan manusia, tetapi jangan sampai manusia menyerahkan kemerdekaan akalnya kepada teknologi. Sebab, kader yang bertauhid bukanlah mereka yang menolak kemajuan zaman, melainkan mereka yang mampu menguasai kemajuan tanpa kehilangan kemerdekaan dirinya.