Catatan : Sujitno Ngadino Mahasiswa Universitas Cahaya Prima

MAKASSARINFO – Jika semester 1 mengajarkan cara beradaptasi, semester 8 mengajarkan cara bertahan.

Bagi sebagian mahasiswa, semester 8 menjadi salah satu fase paling berat dalam perjalanan perkuliahan. Di titik ini, tugas akhir mulai menuntut perhatian penuh, proposal penelitian menunggu persetujuan, revisi datang silih berganti, sementara pertanyaan tentang masa depan semakin sering terdengar.

“kapan lulus?”

“Kapan sidang?”

“Sudah dapat pekerjaan?”

“Temanmu sudah wisuda, kamu kapan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan studi, kalimat semacam itu dapat menjadi tekanan tersendiri.

Di tengah tuntutan akademik dan ekspektasi lingkungan, mahasiswa semester 8 sering kali merasa seolah-olah sedang berpacu dengan waktu. Padahal, perjalanan pendidikan bukan perlombaan yang memiliki garis finis yang sama bagi setiap orang.

Semester 8 bukan akhir. Ia adalah masa transisi.

Di fase inilah seorang mahasiswa mulai meninggalkan rutinitas kampus dan bersiap menghadapi kehidupan setelah lulus. Karena itu, wajar jika muncul rasa takut, bingung, bahkan keraguan terhadap masa depan.

Tidak Semua Orang Memiliki Garis Waktu yang Sama

Media sosial membuat pencapaian orang lain begitu mudah terlihat.

Hari ini kita melihat teman mengunggah foto wisuda. Besok ada yang membagikan kabar diterima bekerja. Ada pula yang berhasil mendapatkan beasiswa, mengikuti program magang, membangun usaha, atau melanjutkan pendidikan S2.

Tanpa disadari, pencapaian orang lain kemudian dijadikan ukuran untuk menilai diri sendiri.

Masalahnya, kita sering hanya melihat hasil akhir tanpa mengetahui perjalanan panjang di baliknya.

Setiap mahasiswa memiliki kondisi yang berbeda. Ada yang harus bekerja sambil kuliah. Ada yang membantu perekonomian keluarga. Ada yang menghadapi persoalan finansial. Ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang karena kendala penelitian maupun persoalan pribadi.

Karena itu, membandingkan perjalanan seseorang dengan perjalanan orang lain tidak selalu menghasilkan penilaian yang adil.

Ada yang lulus dalam waktu empat tahun. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Keduanya tetap memiliki perjalanan dan perjuangannya masing-masing.

Skripsi Menguji Kesabaran, Bukan Sekadar Kepintaran

Skripsi sering kali dipandang sebagai ujian terakhir kemampuan akademik seorang mahasiswa. Namun, proses mengerjakannya sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang kemampuan memahami teori atau mengolah data.

Skripsi juga menguji konsistensi, kedisiplinan, ketelitian, kemampuan mengatur waktu, dan terutama kesabaran.

Akan ada masa ketika revisi terasa tidak kunjung selesai. Ada penelitian yang tidak berjalan sesuai rencana. Ada data yang harus dikumpulkan kembali. Ada pula hari ketika seseorang membuka laptop, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana.

Pada titik tertentu, motivasi bisa menurun.

Namun, kesulitan tersebut tidak selalu berarti seseorang tidak mampu. Justru dalam proses itulah mahasiswa belajar menyelesaikan persoalan secara bertahap.

Tidak semua hari harus menghasilkan pencapaian besar. Terkadang, menyelesaikan satu halaman, memperbaiki satu bagian, membaca satu jurnal, atau menghubungi dosen pembimbing sudah merupakan bentuk kemajuan.

Tiga Hal yang Perlu Diingat Mahasiswa Semester 8

Pertama, fokus pada progres, bukan kesempurnaan.

Keinginan menghasilkan skripsi yang sempurna sejak awal justru dapat membuat seseorang takut memulai. Menulis sedikit demi sedikit jauh lebih baik daripada menunggu semuanya terasa sempurna.

Satu halaman hari ini mungkin terlihat kecil. Namun, jika dilakukan secara konsisten, halaman-halaman tersebut pada akhirnya akan menjadi sebuah karya yang utuh.

Kedua, jangan takut meminta bantuan.

Dosen pembimbing, teman, senior, maupun alumni dapat menjadi tempat berdiskusi ketika menghadapi kebuntuan.

Meminta arahan bukan berarti tidak mampu. Sebaliknya, mengetahui kapan harus meminta bantuan merupakan bagian dari proses belajar dan bentuk tanggung jawab terhadap penyelesaian studi.

Ketiga, jangan abaikan kesehatan.

Mengejar skripsi bukan berarti harus mengorbankan kesehatan. Begadang terus-menerus tidak selalu identik dengan produktivitas.

Tubuh yang kelelahan dapat membuat konsentrasi menurun dan pekerjaan justru menjadi semakin lambat.

Karena itu, menyelesaikan studi juga membutuhkan kemampuan menjaga keseimbangan antara pekerjaan akademik dan kondisi diri.

Jangan Jadikan Kecepatan sebagai Satu-satunya Ukuran

Lulus lebih cepat tentu menjadi pencapaian yang patut diapresiasi. Namun, kecepatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang mahasiswa.

Ada hal yang jauh lebih penting : apa yang dipelajari selama perjalanan tersebut, pengalaman apa yang diperoleh, serta seberapa siap seseorang menghadapi kehidupan setelah kampus.

Perguruan tinggi bukan hanya tempat mengejar nilai dan ijazah. Di dalamnya terdapat proses panjang untuk membentuk cara berpikir, kemampuan memecahkan masalah, membangun relasi, menghadapi kegagalan, dan belajar bertanggung jawab.

Karena itu, jangan biarkan keberhasilan orang lain membuat kita meremehkan perjalanan sendiri.

Kita tidak pernah benar-benar mengetahui beban yang sedang dipikul oleh orang lain. Begitu pula orang lain tidak mengetahui seluruh perjuangan yang sedang kita jalani.

Semester 8 Adalah Tentang Bertahan

Pada akhirnya, semester 8 bukan sekadar angka dalam perjalanan akademik.

Ia adalah fase ketika seorang mahasiswa diuji untuk tetap berjalan meskipun tidak semua hal berjalan sesuai rencana.

Skripsi mungkin terasa sulit. Revisi mungkin melelahkan. Masa depan mungkin terlihat penuh tanda tanya.

Tetapi semua itu bukan alasan untuk berhenti.

Jika hari ini langkahmu terasa lebih lambat daripada orang lain, tidak apa-apa. Selama masih bergerak, perjalanan itu belum berakhir.

Kelulusan bukan hanya tentang tanggal yang tercetak pada ijazah. Lebih dari itu, kelulusan merupakan hasil dari perjalanan panjang yang di dalamnya terdapat kerja keras, kegagalan, kesabaran, dan keberanian untuk terus mencoba.

Suatu hari nanti, semester 8 mungkin tidak lagi dikenang sebagai masa yang paling berat.

Sebaliknya, ia bisa menjadi fase yang mengajarkan satu hal penting: bahwa manusia sering kali baru mengetahui seberapa kuat dirinya setelah melewati masa-masa yang membuatnya ingin menyerah.

Maka, bagi siapa pun yang sedang berada di semester 8, jangan terlalu sibuk menghitung seberapa jauh orang lain sudah berjalan.

Lihatlah langkahmu sendiri.

Kerjakan apa yang bisa dikerjakan hari ini. Selesaikan satu per satu. Jika lelah, beristirahatlah. Jika buntu, carilah bantuan. Tetapi jangan menyerah hanya karena perjalananmu berbeda.

Sebab keberhasilan bukan semata-mata tentang siapa yang sampai lebih dulu, melainkan tentang mereka yang tetap memilih melangkah ketika perjalanan terasa paling berat.