Penulis : Pahrian (Penikmat Bukan Pemain)
MAKASSARINFO – Ketika idealisme memasuki ruang negosiasi, dan perkaderan menjadi peta kecil distribusi kuasa.”
Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) semestinya menjadi ruang dialektika gagasan, tempat nalar kader diuji, visi organisasi dipertarungkan, dan masa depan perkaderan dirumuskan. Namun, di tengah riuhnya kontestasi, muncul sebuah pertanyaan yang terdengar jenaka, tetapi menyimpan kegelisahan serius: “Abang Mentor ke mana ini?”
Pertanyaan tersebut bukan sekadar lelucon di lorong-lorong kongres. Ia merupakan metafora politik tentang arah dukungan, peta patronase, desain konsolidasi, hingga kalkulasi bargaining di balik panggung suksesi. Siapa mendukung siapa? Ke mana arah gerbong bergerak? Apa peta jalan dukungannya? Dan yang paling menarik, siapa memperoleh apa setelah palu kongres diketuk?
Dalam perspektif sosiologi politik, fenomena semacam ini dapat dibaca melalui relasi patronase, pertukaran kepentingan, dan reproduksi kekuasaan. Dukungan tidak lagi semata-mata lahir dari kesamaan visi, tetapi berpotensi menjadi instrumen pertukaran sumber daya politik. Loyalitas menjadi nominal, suara menjadi komoditas, sementara idealisme perlahan dinegosiasikan di pasar kekuasaan yang dibungkus dengan jargon perjuangan.
Ironisnya, semua itu berlangsung di rumah besar yang bernama HMI organisasi yang mewarisi semangat keislaman, keindonesiaan, dan tanggung jawab intelektual. Di sinilah paradoks itu menemukan bentuknya, organisasi yang seharusnya mendidik kader agar kritis terhadap oligarki justru berisiko mereplikasi mekanisme oligarkis dalam tubuhnya sendiri.
Kita seperti sedang menyaksikan realitas yang terbalik. Di mimbar, kader berbicara tentang independensi, di ruang negosiasi sebagian mungkin sibuk menghitung afiliasi. Di forum, integritas dipidatokan dengan suara lantang, di balik tirai kalkulasi distribusi posisi bisa saja menjadi bahasa yang lebih menentukan. Tentu, tidak setiap konsolidasi adalah transaksi dan tidak setiap dukungan merupakan pengkhianatan. Politik organisasi tetap membutuhkan koalisi. Namun, koalisi tanpa transparansi visi mudah berubah menjadi kartel kepentingan, sementara solidaritas tanpa prinsip hanya menjadi nama lain dari kompromi.
Pertanyaan “Abang mentor ke mana ini?” akhirnya berkembang menjadi pertanyaan yang lebih substantif, Kongres ini sedang merumuskan masa depan HMI atau sekadar merundingkan masa depan para pemegang kendali? Apakah dukungan dibangun berdasarkan peta jalan ideologis, atau sekadar peta distribusi kekuasaan? Dan ketika kongres usai, apakah kader mendapatkan arah perjuangan yang jelas, atau hanya menyisakan cerita tentang siapa bersekutu dengan siapa dan siapa memperoleh bagian apa?
HMI tidak kekurangan jargon perjuangan. Yang perlu diuji justru keberanian untuk memastikan bahwa jargon tersebut memiliki konsekuensi etis. Sebab, independensi bukan sekadar atribut dalam konstitusi, melainkan kemampuan menjaga jarak kritis dari kepentingan eksternal maupun ambisi internal. Perkaderan bukan pabrik loyalitas kepada figur, melainkan laboratorium kesadaran untuk melahirkan manusia yang merdeka secara intelektual dan bertanggung jawab secara sosial.
Jika kongres hanya menjadi arena distribusi pengaruh, maka organisasi sedang menghadapi krisis yang lebih serius daripada sekadar persaingan kandidat dan krisis orientasi. Sebab, kekuasaan yang tidak dituntun oleh gagasan akan melahirkan pragmatisme, sedangkan pragmatisme yang dinormalisasi akan mengubah organisasi perjuangan menjadi biro perjalanan menuju akses dan privilese.
Maka, sebelum bertanya Abang Mentor berada di gerbong mana, barangkali kita perlu bertanya lebih dahulu “ke mana HMI hendak dibawa?” Siapa pun mentornya, siapa pun kandidatnya, dan siapa pun pemenangnya, organisasi ini tidak boleh kehilangan kompas hanya karena terlalu sibuk menghitung arah angin.
Sebab, kongres yang kehilangan orientasi hanya akan melahirkan pemenang tanpa kemenangan ideologis. Palu mungkin mengetuk akhir persidangan, tetapi tidak otomatis mengakhiri pertanyaan tentang integritas. Dan sejarah tidak akan mengingat HMI hanya karena siapa yang berhasil menduduki kursi ketua umum, melainkan karena apa yang diperjuangkan setelah kursi itu diduduki.
Pada akhirnya, Abang Mentor boleh menentukan arah gerbong, tetapi jangan sampai rel perjuangan dibangun menuju arah stasiun kepentingan. Sebab, HMI didirikan bukan untuk mengajari kader bagaimana cara menemukan pintu kekuasaan, melainkan bagaimana memastikan kekuasaan tidak pernah menjadi alasan untuk meninggalkan cita-cita.




Tinggalkan Balasan