MAKASSARINFO – Rentetan perang kelompok yang berulang di sejumlah wilayah Kota Makassar menjadi pekerjaan rumah serius bagi Kapolda Sulawesi Selatan (Sulsel), Irjen Pol M. Awal Chaeruddin. Meski baru resmi menjabat sejak Jumat (9/10/2026), sejumlah bentrokan antarkelompok warga kembali terjadi, bahkan menelan korban jiwa.
Sejumlah lokasi yang dilanda bentrokan di antaranya Jalan Abu Bakar Lambogo (Ablam), Kecamatan Makassar, Jalan Rajawali di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lelong, Rappocini, hingga Kandea yang berada di perbatasan Kecamatan Tallo dan Bontoala. Rentetan kejadian ini memperlihatkan bahwa penanganan konflik antarkelompok masih menjadi tantangan serius bagi aparat kepolisian.
Di kawasan Jalan Rajawali, perang kelompok antara warga Rajawali Rusun dan Kokolojia pada Kamis (15/10/2026) dini hari berujung maut. Seorang pemuda meninggal dunia akibat luka tebas senjata tajam jenis parang. Polisi telah menangkap tiga orang yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.
Bentrokan juga kembali pecah di kawasan Ablam pada Senin (19/10/2026) dini hari. Wilayah ini disebut kerap menjadi lokasi saling serang antarkelompok warga, bahkan melibatkan emak-emak yang membela anaknya. Dalam insiden sebelumnya di kawasan yang sama, seorang pria meninggal dunia setelah terjatuh ke dalam got saat bentrokan berlangsung.
Sementara itu, di wilayah Rappocini, polisi mengamankan 14 pemuda beserta barang bukti senjata tajam setelah menerima laporan dugaan penyerangan kelompok. Adapun di kawasan Kandea, bentrokan antara kelompok warga menyebabkan Rafli Ramadhani alias Pingky (19) meninggal dunia. Rangkaian kejadian tersebut menambah panjang daftar konflik jalanan yang mengancam keselamatan warga Makassar.
Menanggapi situasi tersebut, Kapolda Sulsel Irjen Pol M. Awal Chaeruddin mengungkapkan pengalamannya bertugas di daerah konflik, yakni Ambon dan Poso. Ia menilai penanganan perang kelompok tidak cukup hanya mengandalkan aparat, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat untuk menghentikan aksi kekerasan.
“Terus terang saya punya pengalaman di daerah konflik, Ambon dan Poso. Kalau mereka bertikai ya, berapa orang? Kau bertempur di tengahnya. Nggak ada yang berani juga itu,” kata Awal saat silaturahmi dan tukar pikiran bersama awak media di lobi Mapolda Sulsel, Senin (19/10/2026).
Awal bahkan melontarkan pernyataan bernada sindiran terhadap kelompok yang kerap terlibat tawuran. Ia menyebut Karebosi sebagai lokasi yang bisa dijadikan arena apabila mereka benar-benar ingin bertarung, alih-alih menyerang warga dan membahayakan orang lain. “Kalau perlu saya kasih gitu nanti kalau mau bertempur, kasihkan arenanya di Karebosi sana, bertempur 10 melawan 10. Pasti enggak ada yang berani itu,” ujarnya.
Selain penindakan terhadap pelaku, Kapolda menginstruksikan jajarannya merazia tempat pembuatan busur yang diduga menjadi salah satu sumber peredaran senjata dalam perang kelompok. “Sekarang sudah saya perintahkan seluruh anggota Polda Sulsel merazia tempat buat itu, busur-busur. Katanya itu dijual Rp50.000 juga per berapa biji. Jadi ada juga pengrajinnya rupanya. Itu kita tumpas nanti,” tegasnya.
Kapolda juga menyoroti peran orang tua dalam mencegah anak-anak terlibat tawuran, terutama ketika mereka masih berkeliaran hingga dini hari. Ia mengingatkan bahwa pembiaran terhadap kenakalan remaja dapat merusak masa depan anak sekaligus membahayakan keselamatan orang lain. “Anak-anak itu punya masa depan. Kalau dia dipidana, dipenjara, pasti kan merusak masa depannya juga,” ujarnya. Ia menegaskan, kepolisian akan menerapkan tindakan secara bertahap, mulai dari pendekatan lunak hingga penegakan hukum tegas terhadap pelaku yang mengancam jiwa orang lain.




Tinggalkan Balasan