MAKASSARINFO –  Kolaborasi tiga pihak atau Trihelix antara Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan (Polipangkep), Pusat Oleh-Oleh Roti Mantao, dan Yayasan Pendidikan Cahaya Lontara menghadirkan Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara di Kota Makassar.

Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara menggelar soft opening di Pusat Oleh-Oleh Roti Mantao, Kelurahan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, Rabu (26/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 60 undangan dari berbagai unsur, mulai dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, tokoh masyarakat, sekolah, hingga pelaku UMKM.

Ruang tersebut dirancang sebagai wadah kolaborasi untuk mengembangkan wastra dan kriya khas Sulawesi Selatan. Selain menjadi ruang pamer, Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara juga menjadi tempat edukasi, pelatihan, pendampingan, dan pengembangan usaha bagi pelaku UMKM.

Kepala Unit Pengembangan Karir dan Kewirausahaan Polipangkep sekaligus Ketua Tim Riset Bestari Saintek Pewarnaan Alam pada Wastra Sulawesi Selatan, Dr. Zulfitriany Mustaka, mengatakan Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara tidak dibangun hanya sebagai galeri.

“Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara tidak sekadar berfungsi sebagai ruang pamer atau galeri statis, melainkan sebuah ekosistem inkubasi bisnis bagi pelaku UMKM industri kreatif,” kata Zulfitriany saat soft opening.

Menurutnya, keberadaan ruang tersebut akan diarahkan untuk memperkuat kapasitas pelaku UMKM melalui pelatihan, pendampingan, dan pembinaan. Program tersebut akan didukung modul-modul praktik yang berbasis sains dan teknologi.

“Di tempat ini, proses pelatihan, pendampingan dan pembinaan dijalankan dengan tersedianya modul-modul praktik yang berbasis sains dan teknologi,” ujarnya.

Zulfitriany menilai kolaborasi antara akademisi, dunia usaha dan yayasan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem yang berkelanjutan bagi industri kreatif berbasis budaya.

Founder Yayasan Pendidikan Cahaya Lontara, Ariiqah Zahra Mardhatillah, mengatakan yayasan tersebut didirikan pada 2021. Nama Cahaya Lontara dipilih dengan mengadopsi nilai filosofis dari aksara Lontara.

“Aksara Lontara bukan sekadar simbol tulisan tradisional, melainkan manifestasi jati diri, jejak ingatan kolektif, serta kearifan lokal masyarakat Bugis-Makassar yang sarat akan nilai keteguhan dan keindahan,” jelas Ariiqah.

Ia berharap integrasi nilai budaya dalam pengembangan wastra dan kriya dapat melahirkan produk yang memiliki identitas kuat dan mampu dikenal lebih luas.

“Melalui integrasi budaya ini, setiap karya yang dihasilkan diharapkan memancarkan identitas kuat khas Sulawesi Selatan ke panggung nasional hingga global,” ujarnya.

Dukungan terhadap kehadiran Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara juga disampaikan Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sulawesi Selatan. Kepala Bidang Pemberdayaan Koperasi, Indriastuti Sagaf, SH., MH., yang mewakili dinas tersebut, mengatakan ruang ini memiliki peluang untuk memperkuat pengembangan UMKM.

Ia berharap materi dan modul pelatihan yang diberikan nantinya sesuai dengan kebutuhan pelaku UMKM, salah satunya kemampuan pemasaran digital.

Dinas Koperasi dan UMKM Sulawesi Selatan juga membuka peluang bagi alumni Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara untuk menjadi bagian dari binaan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

“Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, komunitas dan media akan memperkuat peran strategis ruang ini ke depan,” kata Indriastuti.

Sementara itu, Lurah Sudiang menyambut baik kehadiran Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara di wilayahnya. Ia mengapresiasi seluruh pihak yang telah terlibat dalam menghadirkan ruang tersebut.

“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada semua pihak, mitra, serta para perajin yang telah bekerja keras mewujudkan tempat ini,” ujarnya.

Ia berharap Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara tidak hanya menjadi ruang pamer produk kerajinan.

“Semoga Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara tidak hanya menjadi ruang pamer, tetapi juga rumah bersama yang menghidupkan perekonomian kreatif di daerah kita,” lanjutnya.

Wakil Ketua Harian Dekranasda Provinsi Sulawesi Selatan, Prof. Sri Astuti Thamrin, turut hadir dalam soft opening tersebut. Ia mengatakan ruang wastra dan kriya tersebut memiliki peran strategis dalam pemberdayaan ekonomi keluarga dan masyarakat, terutama di wilayah ujung Kota Makassar.

“Semoga ruang ini nantinya dapat memperkuat karya-karya berbasis budaya dan keunggulan produk Sulawesi Selatan,” kata Astuti.

Menurutnya, kolaborasi yang terbangun di Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara dapat menjadi penggerak pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus mendorong semangat kewirausahaan.

“Semoga hari ini menjadi momentum hadirnya ruang kolaboratif yang berjalan saling melengkapi sebagai garda terdepan dalam mendorong semangat kewirausahaan guna mewujudkan masyarakat yang sehat, mandiri dan berdaya saing,” ujarnya.

Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara juga menyediakan ruang edukasi bagi generasi muda. Mereka dapat mengenal dan mempelajari teknik pembuatan wastra serta kriya tradisional Sulawesi Selatan.

Selain menampilkan koleksi hasil kolaborasi dengan desainer lokal, ruang tersebut diharapkan menjadi sarana regenerasi perajin sekaligus membuka peluang pengembangan usaha baru bagi pelaku UMKM.

Kehadiran Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara menjadi salah satu bentuk kolaborasi lintas sektor untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya Sulawesi Selatan sekaligus mendorongnya menjadi bagian dari pengembangan ekonomi kreatif di Kota Makassar.