MAKASSARINFO  Skrining kesehatan mental di sekolah dinilai penting untuk mendeteksi lebih dini persoalan psikososial yang dialami anak dan remaja. Namun, hasil skrining perlu diikuti mekanisme tindak lanjut agar tidak berhenti sebatas identifikasi.

Hal itu menjadi fokus Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) dengan mengimplementasikan MY-SMART.

Program bertajuk “MY-SMART: Implementasi Model Tindak Lanjut Berjenjang Skrining Anak-Remaja Program CKG Sekolah melalui Scorecard, Peer Support, dan Jalur Krisis Terintegrasi” tersebut digelar di Al-Biruni Mandiri Senior and Junior High School, Jumat (14/8/2026).

Kegiatan menghadirkan Prof. Ariyanti sebagai narasumber. Ia menjelaskan MY-SMART dirancang untuk menghubungkan hasil skrining dengan dukungan di sekolah, pemantauan, hingga layanan kesehatan sesuai kebutuhan anak.

“Melalui MY-SMART, kami mendorong agar hasil skrining tidak berhenti pada tahap menemukan atau mengidentifikasi masalah. Harus ada mekanisme tindak lanjut yang jelas,” kata Prof. Ariyanti.

Sebanyak 20 peserta yang terdiri dari guru dan tenaga kesehatan mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari sejumlah sekolah dan Puskesmas di wilayah Makassar dan sekitarnya.

Dari unsur pendidikan, peserta berasal dari SD, SMP, dan SMA Islam Terpadu Al Biruni Mandiri, SD Minasa Upa, serta SMA 14 Gowa. Sementara unsur kesehatan melibatkan tenaga dari Puskesmas Somba Opu, Kassi-Kassi, Minasa Upa, dan Paccelekang.

Dalam model MY-SMART terdapat tiga komponen utama, yakni scorecard, peer support, dan jalur krisis terintegrasi.

Scorecard digunakan untuk membantu pemantauan dan menentukan tindak lanjut. Peer support diarahkan untuk memperkuat dukungan awal melalui lingkungan teman sebaya. Sedangkan jalur krisis terintegrasi disiapkan untuk memastikan koordinasi dan rujukan bagi anak yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

“Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda. Karena itu, tindak lanjut perlu dilakukan secara berjenjang dan proporsional,” ujar Prof. Ariyanti.

Tak hanya pemaparan materi, peserta juga mengikuti simulasi role play. Dalam simulasi tersebut, guru dan tenaga kesehatan mempraktikkan berbagai skenario yang dapat terjadi di lingkungan sekolah.

Mulai dari merespons hasil skrining, memberikan dukungan awal, mengoptimalkan peran teman sebaya, hingga melakukan koordinasi ketika ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Diskusi interaktif juga dilakukan untuk membahas pengalaman dan tantangan pelaksanaan skrining kesehatan anak dan remaja.

Melalui implementasi MY-SMART, Unhas berharap kapasitas guru dan tenaga kesehatan dalam merespons persoalan kesehatan mental anak dan remaja semakin kuat.

Kolaborasi antara sekolah dan Puskesmas juga diharapkan membentuk jejaring dukungan yang membuat hasil skrining dapat diterjemahkan menjadi langkah tindak lanjut yang nyata.

Program tersebut sekaligus mendukung upaya peningkatan kesehatan dan kesejahteraan anak serta remaja, sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera.