MAKASSARINFO – Riset tidak selalu berhenti di laboratorium atau berakhir ketika pendanaan selesai. Zulfitriany Dwiyanti Mustaka, dosen Politeknik Pangkep (Polipangkep), membuktikan sebaliknya melalui Zapa Emas, inovasi yang mengubah limbah pertanian menjadi pewarna alami untuk wastra dan berkembang menjadi produk komersial.
Atas keberdampakan riset tersebut, Zulfitriany diundang sebagai representasi periset dalam diskusi lintas sektor “Mengukur, Menjaga dan Memperluas Dampak Riset” yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama Harian Kompas di Bentara Art Gallery, Lantai 8 Menara Kompas, Jakarta, Selasa (8/9/2026) lalu.
Ia menjadi salah satu narasumber periset bersama Doni Sahat Tua Manalu dari Sekolah Vokasi IPB dan Rida Hudaya dari Politeknik Bandung. Forum itu mempertemukan unsur pemerintah, industri, perguruan tinggi, lembaga pendanaan riset dan periset untuk membahas bagaimana hasil penelitian dapat terus memberi manfaat setelah program dan pendanaan berakhir.
Zulfitriany membawa pengalaman Zapa Emas sebagai contoh riset yang berhasil melewati batas proyek. Riset melalui program Berdikari Saintek pada 2024-2025 tersebut kini berkembang menjadi produk komersial dan bisnis yang terus bertumbuh di Sulawesi Selatan.
“Hasil riset Berdikari Saintek yang kami laksanakan 2024-2025 berakhir menjadi produk komersial dan bisnis yang terus bertumbuh memberi efek domino bagi masyarakat di Sulawesi Selatan. Kami optimis Zapa Emas mampu menjadi pengembangan industri wastra di Sulawesi Selatan dengan bahan baku yang spesifik wilayah dan ekonomis karena memanfaatkan limbah pertanian,” kata Zulfitriany.
Zapa Emas berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Limbah biji alpukat, kulit rambutan, kulit manggis, kayu secang hingga sabut kelapa yang selama ini terbuang dimanfaatkan sebagai sumber pewarna alami tekstil.
Dengan pendekatan itu, satu inovasi menyasar dua persoalan sekaligus: kebutuhan bahan pewarna tekstil dan persoalan limbah pertanian.
Sulawesi Selatan sebagai salah satu lumbung pangan nasional memiliki sumber bahan baku yang melimpah. Limbah tersebut dapat ditemukan di kebun, pasar, toko buah, restoran hingga lingkungan rumah tangga.
Namun bagi Zulfitriany, bahan baku lokal saja tidak cukup. Sebuah riset baru benar-benar berdampak ketika teknologi dapat diterima, digunakan dan dikembangkan oleh masyarakat serta memiliki akses menuju pasar.
“Keberdampakan sains dan teknologi melalui program Berdikari ini terlihat bahwa produk riset Zapa Emas menunjukkan manfaat, jejaring dan kegiatan yang tetap berjalan di tengah masyarakat meski periode pendanaan telah berakhir,” ujarnya.
Ia menilai keberhasilan hilirisasi riset tidak hanya bergantung pada perguruan tinggi. Kesiapan mitra, masyarakat dan konsumen dalam menyerap teknologi menjadi faktor penting agar hasil penelitian benar-benar berpindah dari peneliti kepada pengguna.
Saat ini, tim Zapa Emas telah membangun kemitraan dengan toko oleh-oleh di Makassar. Kemitraan tersebut tidak hanya menjadi jalur pemasaran, tetapi juga dimanfaatkan sebagai lokasi pelatihan dan produksi.
Pengalaman itu yang kemudian dibawa Zulfitriany ke forum lintas sektor tersebut. Zapa Emas menjadi contoh bagaimana pendanaan riset dapat menghasilkan dampak yang lebih panjang ketika penelitian bertemu kebutuhan pasar, mitra strategis dan potensi lokal.
“Zapa Emas adalah contoh nyata bagaimana riset yang terarah dan kolaboratif mampu menjawab tantangan industri sekaligus mengoptimalkan potensi lokal,” katanya.
Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai sektor, di antaranya Direktur Produksi PT Sugity Creatives Asep Chandra, Direktur Pengelolaan Bisnis Universitas Padjadjaran Helitha Novianty Muchtar, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek Yudi Darma, akademisi Universitas Negeri Jakarta Unggul Purwohedi, Wakil Dekan Bidang Akademik sekaligus Kepala Laboratorium Manajemen Teknologi SBM ITB Eko Agus Prasetio, serta Kepala Divisi Pendanaan Riset LPDP Purwana.
Kehadiran Zulfitriany dalam forum tersebut sekaligus menunjukkan posisi Polipangkep dalam ekosistem riset yang tidak berhenti pada keluaran akademik. Zapa Emas menjadi salah satu contoh bagaimana riset berbasis potensi daerah dapat diarahkan menuju pemanfaatan teknologi, penguatan ekonomi hijau dan pengembangan industri wastra.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi model bagi pengembangan riset lain yang memiliki potensi untuk terus dimanfaatkan setelah periode pendanaan berakhir.
“Diharapkan inovasi serupa melalui pendanaan riset dari LPDP dapat terus berkembang dan memperkuat kontribusi riset dalam mendorong ekonomi hijau serta daya saing produk Indonesia di tingkat global,” tutur Zulfitriany.




Tinggalkan Balasan