MUSYAWARAH MUFAKAT, DRH. AMINUDDIN DIAMANAHI KETUA PERHIMPUNAN DOKTER HEWAN INDONESIA (PDHI) CABANG SULSELBAR PERIODE 2022-2026

Makassar – Pada hari Sabtu (10/12/2022) Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Sulawesi Selatan dan Barat telah sukses melaksanakan hajatan 4 tahunan Musyawarah Cabang yang berlangsung sangat hikmat dan penuh dengan suasana keakraban.
Diawali dengan Pembukaan yang penuh semangat melantunkan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dilanjutkan Mars PDHI, Muscab yang dilaksanakan luring di Hotel Premier Perintis Makassar dan daring menggunakan online meeting room diikuti lebih dari 200 orang Dokter Hewan berbagai latar belakang pekerjaan.

Bagi sebagian orang, proses pemilihan pimpinan di suatu organisasi dianggap sangat rumit dan penuh dengan trik-trik khusus untuk memenangkan calon pilihan masing-masing . Namun hal ini tidak berlaku bagi kalangan profesional Dokter Hewan yang terhimpun di PDHI cabang Sulselbar. Dikalangan internal sendiri, PDHI mengusung konsep mufakat yang dianggap lebih mampu membawa nuansa silaturahmi dan musyawarah, bukan nuansa politik.

Sehari sebelumnya, Panitia Muscab telah berhasil menjaring 3 orang bakal calon Ketua yaitu Drh. Aminuddin (Birokrat, mantan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kab. Sinjai) yang diusung oleh mayoritas Generasi Senior, Drh. Nurmayanti (saat ini aktif sebagai Pejabat Otoritas Veteriner Kota Makassar) mewaliki generasi angkatan tengahan, dan Dr. Drh. Dwi Kesuma Sari (Akademisi Kedokteran Hewan UNHAS) membawa amanah dari Generasi Milenial. Ketiga Calon yang ditetapkan, semuanya adalah Alumni FKH IPB Bogor dengan jenjang angkatan yang berbeda.

Sebagaimana di organisasi-organisasi profesional lainnya, seorang pemimpin organisasi profesional (seperti PDHI) menempati posisi sangat sentral. Organisasi PDHI bukan hanya sekedar representasi kumpulan para profesional di bidang veteriner, tapi lebih dari itu. Organisasi ini menjadi mitra strategis pemerintah khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk mengatasi kesenjangan kesejahteraan dan kesehatan ternak/hewan pangan, hewan kesayangan, hewan liar dan eksotik, serta menjamin mutu dan kualitas pangan asal hewan agar mampu mendukung kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Bahkan lebih dari itu, perubahan tantangan global di bidang kesehatan memerlukan peran aktif strategis dokter hewan dalam pendekatan One Health. Itulah mengapa PDHI diharapkan senantiasa hadir tidak hanya untuk menjawab kebutuhan anggotanya, melainkan juga mampu secara kelembagaan profesional menjadi mitra masyarakat dalam bidang peternakan, kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner.

Namun bagaimana corak dan kebijakan organisasi PDHI ke depan, tentunya akan banyak ditentukan oleh siapa yang memimpin organisasi tersebut. Terlebih lagi, hadirnya Prodi Kedokteran Hewan UNHAS adalah salah satu keunggulan kompetitif yang dimiliki PDHI Sulselbar karena setiap tahunnya meluluskan Dokter Hewan baru. Bahkan PDHI Cabang Sulselbar adalah PDHI Cabang dengan anggota terbesar di luar Jawa-Bali.

Tidak dipungkiri, tensi generasi terjadi dalam tubuh organisasi PDHI Cabang Sulselbar. Ada empat generasi yang berhimpun. Generasi Senior (1946-1964) yang menjadi kelompok penjaga Etik dan pengayom wibawa profesi. Kelompok ini menjadi pusat kebijaksanaan dan kearifan saat terjadi gesekan internal, memang kelompok ini tidak lagi diharapkan aktif sebagai penggerak, melainkan menjadi fungsionaris etika profesi dokter hewan. Perlu diketahui, di atas segala bentuk kesepakatan hukum formil/non formil, profesi kedokteran (termasuk Dokter Hewan) terikat norma aktif yang disebut “Code of Ethics”. Generasi ini paling loyal, birokratik, dan senang dengan apresiasi secara terbuka.
Generasi lain (1965-1980) adalah generasi yang dalam masa puncak karir baik sebagai profesional, karyawan ataupun aparatur sipil negara. Sebelumnya, generasi ini menjadi penggerak utama perhimpunan. Soal kinerja, generasi ini sangat adaptif dan fokus pada hasil. Saat mereka dulu menggerakkan perhimpunan, jumlah Dokter Hewan saat itu di Sulawesi Selatan dan Barat sangat sedikit dan generasi inilah yang banyak memperkenalkan profesi dokter hewan yang pada zaman 80an hingga awal 2000an hingga menarik generasi ketiga bersekolah untuk menjadi pprofesionaldi bidang veteriner. Generasi selanjutnya (1981-1997) adalah generasi yang dalam kondisi sangat produktif bekerja, menuju kematangan karir. Soal kinerja, generasi ini sangat tertarik dengan fleksibelitas, kepedualian, dan kebermanfaatan. Dalam organisasi PDHI, dibutuhkan mentor untuk mengarah mereka karena tidak tertarik pada pendekatan kepemimpinan instruktif apalagi otoritarian. Saat ini, inilah generasi dominan dalam perhimpunan. Dan generasi (1998) adalah adalah generasi yang baru memasuki dunia kerja profesi yang lebih cenderung mendapatkan motivasi melalui penghargaan sosial, mentoring, memerlukan feedback secara kontinyu serta kesempatan untuk aktif di organisasi dan tercatat dalam perhimpunan generasi ini sejumlah sedikit saja.

Dengan keunikan, kelebihan dan karakter antar generasi ini, apabila kepemimpinan perhimpunan tidak beradaptasi akan menimbulkan “generation tension” yang bisa merusak kinerja kolektif di internal perhimpunan. Hal ini tentunya akan menimbulkan masalah. Munculnya masalah dapat disebabkan karena perbedaan pola pikir, pola kerja, dan cara komunikasi dari setiap generasi, belum lagi adanya tingkat kecerdasan dan adaptasi teknologi baru semakin membuat adanya perbedaan yang sangat menonjol dan dengan kesenjangan generasi ini perhimpunan berada dalam kinerja struktural yang rumit.

Inilah tantangan yang akan dihadapi oleh para pemimpin perhimpunan. Kekuatan melalui jumlah anggota, ragam generasi, latar belakang pilihan bidang kerja, dan kemudahan teknologi harus dijawab dengan pengalaman mengelola organisasi, adaptif, dan kompetensi kolaborasi para pemimpin. Bila tidak, konflik antar generasi saat bekerja dalam tim kerja perhimpunan dapat merusak tatanan nilai-nilai profesional anggota.

Aminuddin, Nurmayanti, dan Dwi Kesuma Sari adalah talenta yang dipilih anggota untuk membawa perhimpunan mengarungi periodisasi 4 tahunan. Jelas ketiganya adalah representasi 2 generasi dengan kompetensi leadership yang mumpuni. Meskipun Aminuddin memiliki perolehan keterpilihan dalam penetapan calon ketua mengungguli Nurmayanti dan Dwi Kesuma Sari, bukan berarti langsung dengan segera didapuk menjadi pemilik pin Profesi Dokter Hewan tertinggi di Sulselbar. PDHI Sulselbar mengakar kuat budaya “mabbicara”, musyawarah untuk mufakat. Penegasan berkali-kali datang dari Aminuddin tentang rentang generasi dalam tubuh perhimpunan tidak membuat dirinya harus disebut sebagai senior, melainkan dirinya lah yang harus siap melayani semua anggota.

Lain halnya dengan Nurmayanti, bekal pengalaman menggalang dan mengelola dana PDHI Sulselbar selama 8 tahun terakhir, dia khatam betul bagaimana Semangat dan Ikhlas menjadi modal utama membawa PDHI Sulselbar terus berkembang. Bahkan, dirinya mencontohkan bagaimana Ketua Demisioner Agung Jhoni Wahyuda memimpin dengan luarbiasa.

Begitu pula Dwi Kesuma Sari, kehadirannya sebagai Akademisi menjadi calon yang paling diunggulkan dalam jumlah suara. Lebih dari 50 persen pemilik suara di muscab perhimpunan kali ini berasal dari alumni jebolan kedokteran hewan UNHAS. Inilah komponen terbesar saat ini di perhimpunan yang harus dijembatani dan didampingi dalam mengawali dan menapaki karir profesionalnya. Dwi Kesuma Sari sangat peka dengan persoalan regenerasi, profilnya lah yang menarik golongan muda ingin berhimpun di PDHI. Sadar memperoleh dukungan mayoritas, Dwi Kesuma Sari tentu membawa persoalan angkatan muda menjadi topik utama dalam Musyawarah dan meminta semua hadirin mengapresiasi angkatan muda sebagai harapan masa depan PDHI Sulselbar.

Menariknya, tradisi PDHI Sulselbar dalam menentukan pimpinannya adalah dengan Musyawarah mufakat dan pendekatan ini telah diwariskan sejak dulu. Pemilihan pimpinan bukan soal saling tunjuk saling dukung, melainkan soal membuka diri, menerima aspirasi, dan siap berpartisipasi. Ketiga calon pimpinan adalah keterwakilan dari prinsip-prinsip itu. Aminuddin dengan kecakapan birokratik dapat diandalkan mengelola aspirasi anggota dengan baik, Nurmayanti siap dengan mendorong partisipasi, dan Dwi Kesuma Sari hadir memberi ruang angkatan muda seluas-luasnya. Boleh dikata, kebutuhan perhimpunan terjawab dengan kompetensi calon pimpinan. Tentu saja, paket komplit dari 2 generasi berbeda ini tidak dilewatkan oleh perhimpunan. Ketiganya pun diminta menjadi paket pimpinan dalam kepengurusan PDHI Cabang Sulselbar.

Melalui serangkaian komunikasi, menjaring aspirasi dari bawah, meminta pertimbangan dari atas, mencairkan suasana dengan kuis dan yel-yel yang terus menggema sembari mengepalkan tangan menunjukkan kebulatan tekat semua anggota. Bersatu menuju kejayaan profesi, menunjukkan sikap ” high level” calon pimpinan dan anggota PDHI Sulselbar. Akhirnya, Aminuddin diberikan amanah mengemban Ketua PDHI Cabang Sulselbar Periode 2022-2026.

Tiga kali ketukan palu pimpinan sidang setelah membacakan surat keputusan musyawarah menandai keputusan semua anggota untuk melanjutkan langkah perhimpunan lebih padu, maju, dan jaya. Menemukan kesamaan dari berbagai generasi memang tidak mudah, tapi pasti ada solusinya. Tugas pemimpin adalah harus dapat menemukan kesamaan yang dapat menjadi kekuatan. Kesamaan visi inilah bisa menjadi modal untuk menjalin kolaborasi antar generasi dalam perhimpunan.

Berkolaborasi lintas generasi sepertinya adalah pilihan yang terbaik. Generasi tua memiliki optimisme sehingga dapat membuat perhimpunan ini terus berkembang. Generasi lainnya mendorong setiap orang menjadi aktif dalam perhimpunan dan generasi milenial adalah anak muda yang inovatif, kompeten dan sangat menghargai keseimbangan kehidupan dan pekerjaan. Dengan berkolaborasi tentunya akan membentuk perhimpunan yang solid.

Makassar, 10 Desember 2022
Jayalah PDHI Sulselbar
#KITASEHATI

Loading