KRIMINAL

Kuasa Hukum Nurbaya Amdar Bantah Peristiwa Ustadz Dikeroyok dan Disekap di Makassar

MAKASSAR – Kuasa hukum Hj Nurbaya Amdar, Amran Hamdy, buka suara terkait pemberitaan adanya seorang pria mengaku ustadz di Makassar yang diculik dan disekap dalam rumah.

Dalam keterangan tertulisnya, Amran Hamdy mengatakan, apa yang disebut kuasa hukum Jabal Nur, tidak sesuai fakta yang sebenarnya.

Jabal Nur (Korban) kata dia, yang mengaku didatangi Orang Tak Dikenal, sebenarnya orang yang mendatangi adalah keluarganya sendiri yakni, Tantenya, Om, dan sepupunya bukan orang lain.

Dalam pemberitaan, melalui kuasa hukumnya Jabal Nur juga mengatakan, dirinya didatangi 30 orang, sebenarnya yang datang hanya 9 orang itupun keluarga Jabal Nur.

Ia juga mengaku dikeroyok dan disekap kemudian dirinya diculik, dibawah keliling dan diancam.

“Sebenarnya yang terjadi adalah Jabal Nur dibawa ke kantor Polrestabes Makassar, untuk diamankan,” ucap Amran Hamdy.

Namun ternyata petugas piket pada saat itu menolak, lalu kemudian dibawa ke Kantor Polda Sul-Sel yang juga menolak, dengan alasan bahwa belum ada dasar hukum untuk mengamankan.

“Karena Jabal Nur mengeluh sakit pinggang, atas dasar inisiatif klien kami yang juga masih keponakannya sendiri merasa ibah lalu kemudian dibawa berobat kerumah sakit umum daya Makassar untuk dilakukan pemeriksaan atas keluhannya dan saat itu segala biaya-biaya pengobatan ditanggung klien kami.

Keesokan harinya Jabal Nur sudah tidak ada di rumah sakit diduga kabur.

Bahwa pemberitaan mengenai adanya tas yang diambil oleh klien kami, itu tidak benar melainkan telah diamankan oleh pihak Polda Sul-Sel dimana tas tersebut berisikan, Senjata Tajam(jenis badik), Kartu Keluarga yang menyatakan Jabal Nur berstatus Bujang padahal diketahui sudah pernah menikah sebanyak dua kali dan memiliki dua orang anak.

Disebutkan juga, ada sertifikat yang digandakan, Uang kurang lebih 100.000., Jimat-jimat, aksesoris Jabal Nur dan lainnya.
Saat di interogasi oleh anggota piket SPKT Polda.

Jabal Nur kata Amran, mengakui bahwa adanya sertifikat ganda atau penerbitan ulang sertifikat karena dirinya mengurus atau menggunakan surat keterangan kehilangan dari Polrestabes Makassar yang sebenarnya adalah keterangan palsu dan lalu kemudian mengurus penerbitan sertifikat ganda di BPN Kota Makassar.

Uraian dan penjelasan diatas itulah fakta yang sebenarnya terjadi pada saat itu.

“Dalam kesempatan ini kami juga menyampaikan bahwa, persoalan ini berkaitan dengan hutang piutang dimana Jabal Nur bersama ibunya pernah meminjam uang ke klien kami sejumlah Rp130 juta pada tahun 2011,” kata Amran Hamdy dalam keterangan tertulisnya, Jumat (21/6/2024).

Pada tahun yang sama saudara kandung Jabal Nur atas nama Suhaeni lanjut Amran, menemui klien kami dan menyampaikan bahwa Jabal Nur sudah terlilit hutang di Bulukumba dan Makassar.

“Kemudian meminta tolong kembali kepada klien kami untuk membantu menebus hutang Jabal Nur di Koperasi Multi Niaga di Makassar, karena kalau tidak ditebus maka utang Jabal Nur sebanyak Rp 130 juta dari klien kami tidak mampu di kembalikan,” bebernya.

Lalu Suhaeni berinisiatif pada saat itu atas dasar kuasa untuk menjual dari Jabal Nur di hadapan Notaris Frederik Taka Waron, SH pada tanggal 26 Agustus 2011 di Makassar.

“Bahwa, ‘Ruko yang menjadi jaminan di koperasi tersebut akan menjadi milik klien kami untuk menutupi hutang Rp130 juta, dan penebusan hutang di Koperasi Multi Niaga, atas dasar penyampaian Suhaeni tersebut maka klien (Hj. Nurbaya) bersama suaminya (Irfandi) serta Suhaeni mendatangi kantor Koperasi Multi Niaga untuk menebus hutang Jabal Nur sebayak Rp. 400 juta, kemudian jaminan hutang tersebut di Koperasi berupa Sertifikat Hak Milik (SHM) No. 21505, Kelurahan Mangasa, Kecamatan Tamalate, Tanggal 16 September 2009, Luas 108 M2, Ruko atas nama Jabal Nur, klien kami terima dari pegawai Koperasi Multi Niaga. Kemudian hutang Jabal Nur untuk biaya administrasi  sejumlah Rp. 75.250.000.

Sehingga total utang Jabal Nur, Rp. 605.250.000 ( Enam Ratus Lima Juta Dua Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah). Berdasarkan surat rincian utang yang di tanda tangani sendiri oleh Jabal Nur, pada tanggal 1 Juli 2012.

Bahkan dalam surat rincian hutang tersebut Jabal Nur berjanji kepada dirinya bahwa bilamana tidak melunasi hutang tersebut sampai tanggal 31 juli 2012, maka jaminan sertifikat akan di balik nama kepada klien kami dengan batas waktu tanggal 1 Agustus 2012

Sejak diterimanya Sertifikat Hak Milik (SHM) No. 21505, atas nama Jabal Nur, pada tahun 2011, klien kami menempati/menguasai ruko tersebut sampai sekarang (13 tahun lamanya) tanpa ada gangguan atau keberatan, namun kemudian Tiga bulan terakhir ini Jabal Nur melakukan pengrusakan di ruko tersebut sebanyak empat kali yang terekam melalui CCTV dan telah kami laporkan Jabal Nur ke Polsek Tamalate Nomor :STPL/60/III/2024/SEK.TAMALATE.

Tanggal 26 Maret 2024. Tentang pengrusakan dan penyerobotan, dan Pernah juga kami somasi/tegur Jabal Nur sebanyak dua kali pada tanggal 26 April 2024, dan 10 Mei 2024, namun Jabal Nur tidak beretikat baik untuk menyelesaikan permasalahan, kemudian kami mengadukan ke Polrestabes Makassar pada tanggal 22 Mei 2024, tentang penipuan dan penggelapan. Dan yang terakhir kami laporkan Jabal Nur ke Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan, Nomor : STTLP/B/467/VI/2024/SPKT/POLDA SULAWESI SELATAN. Tanggal 06 Juni 2024, tentang dugaan tindak pidana sumpah palsu dan keterangan palsu UU Nomor: 1 Tahun 1946, tentang KUHP sebagaimana dimaksud dalam pasal 266 KUHP.

Sebelumnya diberitakan, Seorang tokoh agama di Makassar, Jabal Nur (57) menjadi korban pengeroyokan dan penyekapan.

Hingga kini, polisi masih melakukan penyelidikan setelah korban melapor ke polisi.

“Terlapor inisial N sudah saling kenal dengan pelapor,” kata Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Didik Supranoto, Minggu (8/6).

Namun Didik belum merinci peran pelaku N dalam kasus tersebut.

Pasalnya korban turut dikeroyok oleh sejumlah orang tidak dikenal (OTK).

“Terlapor N dan kawankawan,” tambahnya. Didik melanjutkan kasus ini dilaporkan ke Polda Sulsel pada Kamis (6/6) lalu

Dia mengaku perkara ini diduga dipicu permasalahan utang piutang.

“Dilatarbelakangi masalah utang piutang,” ujar Didik.

Sebelumnya diberitakan, Jabal Nur dikeroyok di rumahnya, Jl Mapala, Kecamatan Rappocini, Makassar, Rabu (5/6) sekitar 21.00 Wita.

Sejumlah OTK bahkan melempari kediamannya hingga rusak.

“Tidak lama (kemudian), ada bunyi pecahan kaca, lemparan dari luar ke dalam. Tiba-tiba segerombolan orang masuk, disekaplah (korban) kemudian dihajar, babak belur, ditaruh ke lantai,” terang kuasa hukum korban, Wawan Nur Rewa saat dikonfirmasi, Sabtu (8/6).

Ibu korban yang melihat kejadian itu juga menjadi korban penyerangan OTK.

Wanita lansia tersebut juga ditinju oleh pelaku.

“Ibunya yang lihat (korban dihajar) juga dibogem, ditinju,” katanya.

Korban menderita luka lebam karena aksi OTK tersebut.

Setelah korban terlihat tidak berdaya, ia dibawa ke mobil pelaku.

“Kurang lebih (30 orang). Korban dibawa naik ke mobil hitam, di depannya ada mobil berwarna silver, terus ada lagi 1 mobil,” imbuh Wawan.(*)

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *